Senin, 10 Agustus 2015

Bagaimana Mengukur Proses Belajar di Manufaktur ?



A.    Latar Belakang

Untuk membuat tersedianya tenaga kerja yang kompeten maka perusahaan mengeluarkan biaya untuk pelatihan karyawan, sering kali saat perekrutan kesulitan untuk mendapatkan tenaga kerja yang siap bekerja. Karyawan yang baru di rekrut memerlukan pelatihan atas pekerjaannya sampai kompeten. Agar karyawan kompeten dibutuhkan waktu untuk melatihnya, berapa lama seseorang harus dilatih atau disebut dengan masa OJT (On The Job Training) tergantung pada kecepatan proses belajar kita. Sering kali di perusahaan tidak mempunyai suatu metode yang terukur untuk menetapkan masa OJT atas suatu pekerjaan, ditetapkan 3 bulan misalnya berlaku untuk semua pekerjaan. Begitu juga halnya jika perusahaan mendapatkan projek baru  (atau produk baru), maka perusahaan harus dapat mengestimasi biaya produksi, termasuk biaya tenaga kerja yang diperlukan. Untuk mengukur berapa lama masa OJT maupun mengestimasi biaya tenaga kerja dan produksi dapat dilakukan dengan penerapan konsep learning curve. Konsep learning curve ini akan mengukur seberapa cepat proses belajar yang akan atau sedang terjadi.

Jika seseorang mengerjakan sesuatu, tentunya waktu yang dibutuhkan pada saat pertama kali bekerja akan lebih lama daripada pekerjaan yang dilakukan kedua kalinya, atau bahkan ketiga, keempat dan seterusnya. Seseorang melakukan suatu pekerjaan yang sama secara berulang-ulang, akan membuatnya menjadi semakin lancar sejalan dengan pengalamannya. Dengan pengulangan maka waktu yang dibutuhkan akan lebih singkat dan akan menuju ke arah perbaikan. Fenomena inilah yang disebut dengan kurva pembelajaran (learning curve), dengan kurva ini dapat diukur seberapa lama seseorang perlu dilatih agar kompeten dalam pekerjaannya maupun mengestimasi biaya produksi di masa akan datang. Pada dasarnya proses manufacturing yang kita lakukan adalah melakukan pekerjaan secara berulang-ulang.

Learning curve adalah sebuah kurva yang menggambarkan perkembangan kemajuan belajar, baik disebabkan oleh proses kemajuan dalam belajar sendiri maupun yang disebabkan oleh pelatihan (pendidikan). Istilah learning curve pertama kali diperkenalkan oleh T.P. Wright untuk menandai suatu gejala yang terjadi bila orang mengerjakan pekerjaan berulang kali. Learning curve merupakan alat atau metode yang bermanfaat untuk manajemen operasi, alat ini juga dapat menentukan biaya produksi yang akan dikeluarkan pada masa yang akan datang.

Pola atau gejala belajar tersebut pertama kali diobservasi pada tahun 1925 oleh komandan Wright – Patterson Air Force Base di Ohio, Wright melaporkan bahwa pengalaman berperanan di dalam meningkatkan produktifitas, hal itu tercermin di dalam jam kerja langsung rata-rata untuk memproduksi kerangka pesawat (tanpa mesin) yang menurun dengan tingkat tertentu bila jumlah yang diproduksi menjadi dua kali lipat. Jumlah jam kerja langsung rata-rata untuk memproduksi kerangka pesawat yang keempat adalah 80% dari yang diperlukan untuk unit yang kedua, untuk kerangka pesawat yang kedelapan hanya 80% dari unit yang keempat, dan untuk kerangka pesawat yang keseratus hanya 80% dari yang kelima puluh. Dengan demikian disimpulkan bahwa tingkat belajar dari pengalaman pada pembuatan kerangka pesawat tersebut adalah 80% pada jumlah kelipatan dua. 


B.     Konsep Learning Curve

Konsep learning curve menyatakan bahwa :

  • Bertambahnya pengalaman sampai pada batas tertentu dapat meningkatkan efisiensi 
  • Bila jumlah produksi meningkat dua kali maka waktu yang diperlukan untuk mengerjakan satu satuan unit produk berkurang dengan tingkat konstanta tertentu.


Learning curve memungkinkan perusahaan untuk mengestimasi biaya, penjadwalan, perencanaan kebutuhan, penganggaran maupun penetapan harga.
Fungsi eksponensial learning curve dapat dinyatakan dengan rumus sebagai berikut:

Yn = (Y1)nR

Fungsi eksponensial diatas dapat dinyatakan dalam persamaan Logaritmik Linier:

Log Yn = R log n  +  Log Y1

Keterangan:
Yn     = waktu yang dibutuhkan utuk memproduksi produk ke-n
Y1     = waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi produk pertama
N      = jumlah unit produk yang dibuat
R      = Rasio Logaritma dari waktu yang diperlukan untuk meningkatkan jumlah unit produksi dari waktu produksi standar dibagi dengan log 2 atau log r / log 2


Untuk lebih jelas penerapan konsep diatas perhatikan contoh-contoh dibawah ini “
1.      PT Gatelu adalah perusahaan manufaktur komponen kenderaan roda 2 yang telah berpengalaman, dari study mereka dihasilkan data learning rate sebesar 95 %. Perusahaan membuat produk baru untuk produk pertama (produk ke – 1) membutuhkan waktu total dari awal proses sampai menjadi finish good sebesar 950 menit. Jumlah permintaan dari customer di bulan April 2015 sebesar 1000 unit, maka perusahaan ingin memperkirakan berapa lama waktu dibutuhkan setelah 1 bulan produksi berjalan, hal ini diperlukan untuk pengalokasian man power dan proses untuk project baru type lain di bulan Mei 2015.

Jawaban :
Dari kasus diatas diketahui   
·        LR (learning rate) = 90 %
·         Y1  = 950 menit

Maka   :     Yn = (Y1)nR ------à R = Log 0.9 / Log 2 = (-0.0228) / 0.30103  =  - 0.074

                        Y1000 = 950 x 1000-0.074    = 569.8
Jadi waktu yang dibutuhkan untuk membuat produk yang ke 1000 adalah 569.8 menit.

2.      PT Sinar Cemerlang melakukan rekrutmen karyawan baru untuk operator produksi assembly komponen elektronik, kandidat yang lulus psikotest langsung di test ke lapangan untuk melakukan pekerjaannya. Perusahaan mempunyai program training OJT adalah 2 bulan, dimana setelah OJT 2 bulan karyawan baru harus bisa kerja mandiri dimana hasil kerjanya sudah memenuhi standard perusahaan yaitu waktu 750 detik per produk. Rata-rata jumlah produksi dalam sebulan adalah 500 pcs, jika si Antok calon karyawan baru membutuhkan waktu membuat produk pertama secara benar adalah 850 detik, dan untuk membuat produk kedua 845 detik. Sesuai dengan standard perusahaan apakah si Antok dapat diterima bekerja?

Jawaban :
Dari kasus diatas diketahui :
·         LR (learning rate) = 845 / 850 = 0,994118
·         Y1  = 850 detik
·         Yn = yang ke 1000 unit (500 x 2)  = Y1000  
·         Waktu standard untuk unit ke 1000 = 750 detik

Maka   : Yn = (Y1)nR ---à R = Log 0.994118 / Log 2  = (-0.00256) / 0.30103 = - 0.00851

                        Y 2 bulan = Y1000 = 850 x 1000-0.00851    = 801,4676 

Jadi waktu yang dibutuhkan untuk membuat produk yang ke 1000 adalah 801,4676 detik, dengan demikian maka Anto tidak lulus karena setelah masa OJT (2 bulan) belum dapat menghasilkan produk dengan waktu standard perusahaan 750 detik.


Penulis
Iswara Karsa P
Konsultan Quality Sentral Sistem 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar