Senin, 14 September 2015

Apa Itu Safety Maturity Model?



Muncul paradigma negatif mengenai penerapan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), sehingga K3 menjadi sulit untuk diterapkan dibeberapa perusahaan, paradigma negatif ini terdapat di level manajemen maupun karyawan itu sendiri, antara lain ;
·         K3 itu MAHAL
·         K3 itu hanya program manajemen, sehingga karyawan tidak bertanggung jawab
·         Karyawan sudah dibekali dengan APD itu sudah cukup
·         K3 terkadang itu mempersulit pekerjaan
·         Kecelakaan merupakan risiko dari pekerjaan
·         Dll
Paradigma negatif tersebut muncul ketika penerapan K3 dirasa sudah stagnan (tidak ada improvement) dan muncul berbagai jenis kecelakaan. 

Kenapa kecelakaan kerja masih saja sering terjadi ?
Melihat kepada kejadian diatas, muncul lah beberapa teori kecelakaan dan safety, antara lain :
1.      Domino theory
2.      Human factors theory
3.      Swiss cheese model
4.      Dll

Dari teori-teori diatas, banyak yang menyimpulkan bahwa kelemahan Sistem Manajemen lah yang dominan menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja. Akhirnya perusahaan / organisasi mengupayakan pendekatan penerapan Sistem Manajemen dapat mencegah terjadinya kecelakaan. 

Sistem manajemen K3 yang diterapkan oleh perusahaan-perusahaan tidak melakukan peningkatan yang berkelanjutan (continual improvement) sehingga sistem yang dirasakan oleh karyawan itu hanya sekedar untuk memenuhi tingkat pemenuhan dari konsumen atau regulator (pemerintah). Sistem tersebut akhirnya lepas dari tujuan awal dari K3 itu sendiri, yaitu “Melindungi keselamatan dan kesehatan kerja tenaga kerja dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja”.

Melihat dari permasalahan tersebut, praktisi-praktisi K3 mulai memikirkan bagaimana melihat kematangan dari suatu sistem manajemen K3 sehingga tidak lepas dari tujuan awalnya. Ada juga praktisi yang melihat masalah ini karena “budaya” K3 yang belum terbentuk, ada juga yang melihat dari “Kematangan” dari suatu sistem manajemen tersebut.

Sebagus-bagusnya suatu sistem manajemen K3 tanpa didukung oleh budaya K3 itu juga sia-sia, begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, perlu ada penilaian untuk melihat Kematangan / Kedewasaan Sistem Manajemen K3 dengan Tingkat Budaya K3 di perusahaan.

Bagaimana Mengukur Tingkat Kedewasaan K3 Suatu Perusahaan ?
Safety Maturity Model sudah dianalisa oleh praktisi-praktisi K3, contohnya saja Fleming & Ladner, telah mempublikasikan bahwa tingkat kedewasaan K3 dinilai menjadi 3 tingkatan, yaitu (1) dependent (2) independent, dan (3) interdependent. Kemudian ada lagi dari UK Coal Journey model menjelaskan tingkat kedewasaan K3 menjadi 5 tahapan, yaitu :

Gambar 1. UK Coal Journey Model

Tingkatan diatas adalah pengembangan penilaian penerapan K3 antara “Sistem” dan “Budaya”. Sistem yang dinilai disini berdasarkan UK Coal Safety Management System dan penilaian budaya dengan mengembangkan antara Hudson Model dan Anglo Model. 

Dari pemaparan contoh-contoh teori diatas, kami mengembangkan lagi untuk mencari metodologi penilaian tingkat kedewasaan K3 dengan menggunakan Sistem Manajemen K3 yang spesifik ada di Indonesia yaitu Peraturan Pemerintah No. 50 tahun 2012. Perusahaan-perusahaan di Indonesia sudah banyak menerapkan SMK3 PP No 50 2012 ini, namun mereka belum bisa melihat seberapa matang / dewasa penerapannya. 

Lantas bagaimana cara menilainya?
Kami mencoba untuk mengembangkannya dengan melihat elemen-elemen yang ada di SMK3 ini dengan menggabungkan 5 tahapan dari Anglo Model dan Hudson Model. Sebelumnya kami melihat bahwa Safety Maturity Model ini dari konseptual nya, antar lain : Sistem, Budaya & Teknologi.


Gambar 2. Contoh Konseptual Maturity Model

Dari konseptual diatas, kami tuangkan 5 tahapan tersebut kedalam 12 Elemen yang ada di SMK3 PP 50 tersebut, yang nantinya akan kami nilai secara keseluruhannya. Untuk tiap tahapan memiliki nilai tersendiri, antara lain :
     Basic nilai  : 0 - 25
     Reactive nilai : 26 - 45
     Planned nilai : 46 – 65
     Proactive nilai : 86 - 85
     Resillient nilai : 86-100


Gambar 3. Contoh Tingkat Kedewasaan K3 berdasarkan SMK3 PP No. 50 2012

 

Penulis
Dody Indra Wisnu
HSE Consultant Sentral Sistem

Tidak ada komentar:

Posting Komentar